Dari Canting Menuju Kemandirian, Batik Boek Khaman Menggerakkan Ekonomi Perempuan Desa


MUARA ENIM
-- Selembar kain putih terbentang dihadapan Ira (42). Canting berada di tangannya, sementara malam panas perlahan membentuk garis-garis di atas kain. Motif demi motif dikerjakan dengan teliti. Dari proses sederhana itu, sebuah karya mulai terbentuk, membawa cerita budaya sekaligus harapan untuk menambah penghasilan keluarga.

Aktivitas seperti ini menjadi bagian dari keseharian para perajin di Rumah Kreatif Boek Khaman, Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Bagi Ira, membatik bukan sekadar pekerjaan mengisi waktu. Keterampilan yang mulai dipelajarinya sekitar 2021 itu membuka kesempatan baru untuk membantu perekonomian rumah tangga.

Sebelumnya, Ira berjualan kue untuk menambah pendapatan keluarga. Suaminya bekerja serabutan di kebun karet, dengn pnghasilan yang tidak selalu menentu. Kebutuhan sehari hari harus tetap dipenuhi, sementara pemasukan keluarga bergantung pada  pekerjaan yang tersedia.

Situasi itu membuat Ira mencoba peluang lain. Ia belajar membatik, mengikuti proses produksi, dan perlahan mengasah keterampilannya. Apa yang semula terasa baru  kemudian berkembng menjadi kegiatan produktif yang memberikaan penghasilan.

Kini, Ira menjadi bagian dari kelompok perempuan yang mengembangkan Batik Boek Khaman. Bersama para perajin lainnya, ia ikut membangun usaha yang tidak hanya menghsilkan produk, tetapi juga menjaga identitas budaya desa.

Dari tempat sederhana ini, kreativitas masyarakat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi. Melalui program pemberdayaan PT Pertamina EP (PEP) Limau Field, Rumah Kreatif Boek Khaman berkembang  sebagai ruang usaha bersama yang menggabungkan  keterampilan membatik, pelestarian budaya lokal dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam sebulan, kelompok ini mampu memproduksi sekitar 200 lembar batik dengan omzet penjualan berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta. Para perajin memperoleh penghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Ketika pesanan  meningkat, penghasiln dapat mencapai Rp5 juta.

Bagi keluarga para perajin, tambahan pendapatan tersebut menjadi salah satu hasil nyata dari usaha yang mreka bangun bersama.

Dari Kegiatan Warga Menjadi Usaha Kreatif

Seorang perajin menggoreskan canting di atas kain putih dalam proses pembuatan Batik Boek Khaman di Rumah Kreatif Boek Khaman, Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Keterampilan membatik menjadi salah satu upaya perempuan desa untuk menjaga budaya lokal sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

Rumah Kreatif Boek Khaman berawal dari kegiatan Karang Taruna. Seiring waktu, ruang kegiatan warga ini berkembang menjadi tempat masyarakat mengasah keterampilan dan menciptakan peluang usaha.

Batik kemudian menjadi salah satu produk unggulannya.

Nama Boek Khaman terinspirasi dari buah local  yang dikenal masyarakat setempat. Unsur budaya daerah juga hadir dalam motif yang dibuat para perajin, termasuk motif yang terinspirasi dari  senjata tradisional.

Dengan ciri khas tersebut, Batik Boek Khaman memiliki cerita yang melekat pada daerah asalnya. Kain yang dihasilkan bukan hnya barang untuk dijual, melainkan juga sarana  memperkenalkan kekayaan budaya Desa Lubuk Raman kepada masyarakat yang lebih luas. Usaha batik ini mulai dirintis pada 2021. Setahun kemudian, pendampingan PEP Limau Field turut memperkuat pengembangannya  melalui platihan administrasi, penglolaan keuangan, strategi pemasaran, desain produk, penguatan merek dan kemasan.

Ketua Kelompok Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari, S.P., mengatakan pengembangan batik membutuhkan kreativitas agar produk tetap diminati konsumen. Motif yang sudah dikenal perlu terus dikembangkan tanpa meninggalkan karakter khasnya.

“Selera konsumen selalu berubah. Karena itu kami berusaha menghadirkan desain yang lebih variatif sesuai kebutuhan pasar, namun tetap mempertahankan ciri  kas Batik Boek Khaman,” ujarnya.

Perubahan selera pasar menjadi tantangan tersendiri bagi usaha kerajinan. Para perajin harus mampu menjaga kualitas sekaligus menghadirkan desain yang sesuai dengan kebutuhan pembeli. Karena itu, peningkatan keterampilan produksi berjalan bersama upaya memperluas pemasaran. Batik Boek Khaman mulai diperkenalkan melalui Instagram dan Facebook, dipasarkan  lewat Shopeee serta diikutsertakan dalam sejumlah pameran.

Cara ini membuka kesempatan bagi produk desa untuk dikenal oleh calon pembeli di luar lingkungan sekitar.

Dampak perkembangan Rumah Kreatif Boek  Khaman juga meluas ke pelaku usaha lain. Saat ini, enam UMKM bergabung dengan beragam produk, mulai dari makanan olahan hingga suvenir.

Kehadiran mereka membuat rumah kreatif tersebut tidak hanya berpusat pada kegiatan membatik. Tempat ini juga menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan produk, berbagi peluang dan memperkenalkan hasil karya masing-masing.

Bagi masyarakat, berkembangnya kegiatan tersebut membuka pilihan sumber penghasilan. Keterampilan yang dimiliki dapat diolah menjadi usaha, sementara potensi  lok al memperoleh nilai tambah melalui kreativitas.

Menjaga Lingkungan di Balik Proses Membatik

Di balik kain batik yang selesai dikerjakan, ada proses produksi yang perlu dikelola dengan baik. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah limbah cair dari kegiatan membatik.

Jika tidak ditangani dengan tepat, limbah produksi berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Karena itu, pengembangan usaha batik juga perlu disertai pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.

PEP Limau Field mendampingi Rumah Kreatif Boek Khaman dalam pengembangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Upaya ini diperkuat melalui kerja sama dengan kalangan  akademisi Universitas Sriwijaya, dengan tahapan pengolahan yang mencakup koagulasi,  flokulasi, sedimentasi, aerasi dan proses anaerob.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lubuk Raman, Herli Fransoni, yang mewakili Kepala Desa Henkry Triansyah, mengatakan pendampingan  Pertamina sejak 2022 membawa kemajuan dalam kualitas produk, pemasaran dan pengelolaan lingkungan.

“Sejak dibina Pertamina, banyak kemajuan yang kami rasakan, terutama dalam peningkatan produk dan pemasaran. Yang tidak kalah penting, kegiatan ini sudah mengarah pada proses keberlanjutan,” ungkapnya.

Dikatakannya, pengelolaan limbah menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan Rumah Kreatif Boek Khaman. Air  hasil pengolahan IPAL dapat dimanfaatkan kembali sesuai hasil pengujian dan peruntukannya.

Perhatian terhadap lingkungan juga mencakup sisa bahan produksi. Kain perca yang tersisa dari proses membatik dapat diolah menjadi kerajinan lain. Kelompok juga mulai menjajaki pemanfaatan  tanaman lokal sebagai bahan pewarna alami.

Superintendent HSSE Operation Pertamina EP Limau Field, Suharjono, mengatakan pemnfaatan sisa produksi membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

“Alhamdulillah, limbah dari proses produksi batik dan kerajinan bambu kini bisa diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi,” ucap Suharjono, Kamis (15/10/2026).

Pemanfaatan sisa kain menjadi produk kerajinan memberikan kesempatan bagi kelompok untuk mengurangi bahan yang terbuang. Sementara itu, pengembangan pewarna  alami masih menjadi peluang yang dapat terus dipelajari dan dikembangkan.

Bagi Rumah Kreatif Boek Khaman, kepedulian lingkungan merupakan bagian dari perjalanan membangun usaha. Keberhasilan tidak hanya dilihat dari banyaknya  kain yang terjual, tetapi juga dari cara produksi dijalankan dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dikelola.

Kolaborasi Membuka Jalan bagi Produk Desa

Para perajin perempuan mengembangkan Batik Boek Khaman sebagai produk unggulan Desa Lubuk Raman. Melalui pendampingan PT Pertamina EP Limau Field, usaha kreatif ini membuka peluang ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat

Perjalanan Rumah Kreatif Boek Khaman tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Masyarakat menjadi penggerak utama, sementara pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Pertamina, dan media turut berperan dalam mendorong pengembangan serta memperkenalkan potensi yang dimiliki.

Camat Rambang Niru, Deny Eka Saputra, mengapresiasi kontribusi Pertamina dalam mendukung perkembangan ekonomi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa Desa  Lubuk Raman meraih juara ketiga dalam lomba desa tingkat nasional pada 2025.

Lanjutnya, Kecamatan Rambang Niru memiliki beragam potensi produk lokal. Selain Batik Boek Khaman, terdapat pula usaha sirup dan kerajinan yang dikembangkan masyarakat. Potensi tersebut perlu diperkenalkan secara lebih luas agar produk yang  dihasilkan memiliki kesempatan menjangkau pasar yang lebih besar.

“Dengan sinergi pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan Pertamina, kami berharap perekonomian masyarakat di Kecamatan Rambang Niru smakin berkembang,” terangnya.

Herli juga berharap kunjungan jurnalis dalam kegiatan Media Field Trip dapat membantu memperkenalkan Batik Boek Khaman kepada masyarakat luas.

“Dukungan media sangat penting untuk mempromosikan produk kami. Harapannya, Batik Boek Khaman semakin dikenal dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Lubuk Raman,” tuturnya.

Promosi menjadi bagian penting bagi usaha kecil. Produk yang memiliki kualitas dan ciri khas tetap membutuhkan jalur pemasaran agar dapat ditemukan oleh konsumen.  Melalui publikasi dan promosi, masyarakat memiliki kesempatan memperkenalkan hasil karya mereka kepada calon pembeli di luar daerah.

Pertamina Mendorong Kemandirian Ekonomi Lokal

Beragam kerajinan lokal Desa Lubuk Raman, Kabupaten Muara Enim, usaha ini turut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Bagi Pertamina, pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan di sekitar wilayah operasinya. Program tidak hanya diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi, tetapi juga untuk membantu masyarakat memperkuat kemampuan mengelola usaha secara berkelanjutan.

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Rumah Kreatif Boek Khaman menunjukkan bagaimana  semangat sekelompok perempuan dapat menjadi penggerak ekonomi di tingkat lokal.

“Melalui dukungan terhadap Rumah Kreatif Boek Khaman, Pertamina EP Limau Field ingin menyampaikan pesan bahwa semangat perjuangan sekelompok perempuan mampu menggerakkan perekonomian berkelanjutan di sebuah wilayah. Kami ingin memastikan semangat mereka tak padam dan justru menjadi inspirasi untuk kelompok-kelompok masyarakat  lainnya di sekitar wilayah operasi kami,” jelasnya.

Ia menambahkan, kerja sama lintas sektor dan kepedulian terhadap lingkungan dapat menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat. Karena itu, pendampingan diharapkan tidak hanya memberikan manfaat selama program berlangsung, tetapi juga membantu kelompok mengembangkan ushanya untuk jangka panjang.

Pendampingan PEP Limau Field direncanakan berlangsung hingga 2027. Selama periode tersebut, penguatan kapasitas kelompok menjadi bagian penting agar Rumah Kreatif Boek Khaman dapat terus berkembang.

“Pelatihan pengelolaan keuangan, pengembangan desain, pengemasan, penguatan merek, dan perluasan akses pasar diharapkan membantu para perajin  menghadapi tantangan usaha. Dengan kemampuan tersebut, kelompok diharapkan semakin siap mengelola kegiatan produksi dan pemasaran secara mandiri,” tambahnya.

Penghargaan Menjadi Penyemangat

Perjalanan Rumah Kreatif Boek Khaman mendapat apresiasi melalui sejumlah penghargaan pada 2026. Program ini meraih penghargaan Gold kategori Economic Empowerment dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026.

Penghargaan tersebut diberikan dalam kategori yang mengapresiasi inisiatif penguatan ekonomi dan mata pencaharian masyarakat melalui program yang berkelanjutan dan inklusif.

Rumah Kreatif Boek Khaman juga meraih penghargaan Best Program kategori Ekonomi dalam ajang Community Involvement & Development Upstream Award (CID UA) 2026. Ajang ini menjadi wadah apresiasi bagi program pengembangan masyarakat di lingkungan Pertamina Subholding Upstream.

Superintendent HSSE Operation Pertamina EP Limau Field, Suharjono, menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak yang ikut mendukung perkembangan Rumah Kreatif Boek Khaman.

“Capaian ini merupakan hasil kerja sama kita semua. Kami berharap program pemberdayaan ini terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Penghargaan menjadi bentuk apresiasi atas perjalanan yang telah dilalui. Namun, pekerjaan berikutnya tetap menanti, menjaga mutu produk, mempertahankan pelanggan, memperluas pemasaran serta memastikan usaha mampu bertahan dalam menghadapi perubahan pasar. Bagi para perajin, keberlanjutan usaha akan lebih terasa melalui kesempatan kerja dan penghasilan yang terus berjalan. Kemandirian tidak dibangun hanya dari satu capaian, melainkan  dari kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri.

Dari Selembar Kain, Tumbuh Harapan

Dari canting dan selembar kain, para perempuan Desa Lubuk Raman merajut harapan untuk masa depan keluarga. Batik Boek Khaman menjadi bukti bahwa kreativitas, pelestarian budaya, dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dalam membangun kemandirian ekonomi lokal.

Bagi Ira, setiap kain yang selesai dikerjakan membawa arti lebih dari sekadar produk yang siap dijual. Ada keterampilan yang terus diasah, waktu yang dicurahkan dan kesempatan untuk membantu memenuhi kebutuhan  keluarga.

Perjalanan Rumah Kreatif Boek Khaman juga menunjukkan bahwa usaha kreatif di desa dapat tumbuh dari potensi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Budaya local menjadi sumber inspirasi, keterampilan membatik membuka peluang kerja dan pengelolaan sisa produksi memberi  ruang bagi inovasi yang lebih ramah lingkungan.

Tentu, perjalanan menuju kemandirian tidak selalu mudah. Kelompok perlu menjaga kualitas produk, mengikuti perubahan selera konsumen dan memastikan pemsaran berjalan. Pengelolaan keuangan serta lingkungan juga harus terus diperhatikan agar usaha dapat berkembang secara  berkelanjutan. Namun, para perajin telah memiliki bekal penting: kemauan untuk belajar, keberanian mencoba dan semangat bekerja bersama.

Dari Rumah Kreatif Boek Khaman, energi  masyarakat tumbuh melalui tangan-tangan perempuan desa. Canting dan kain menjadi alat untuk merawat  budaya sekaligus membuka jalan bagi penguatan ekonomi keluarga. Langkah itu bermula dari selembar kain putih. Dengan kreativitas, pendampingan, dan kerja sama, kain tersebut kini menjadi bagian dari cerita tentang  bagaimana masyarakat membangun kemandirian ekonomi dari potensi lokal yang mereka miliki. (Nald)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.