SKK Migas dan KKKS Ajak Jurnalis Tinjau Operasi Produksi PT SRB, Serap 90 Persen Tenaga Kerja Lokal


MUARA ENIM, SS.CO.ID
– Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) wilayah Sumatera Selatan menggelar kegiatan Media Field Trip bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan ke fasilitas produksi PT Sele Raya Belida (SRB) di Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, Senin (8/6/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara industri hulu migas dan insan pers dalam menyampaikan informasi yang akurat, edukatif, serta berimbang kepada masyarakat mengenai peran strategis sektor hulu migas dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Dalam kunjungan tersebut, puluhan jurnalis dari berbagai media di Sumatera Selatan berkesempatan melihat secara langsung proses produksi minyak dan gas bumi yang dijalankan PT Sele Raya Belida sebagai operator Wilayah Kerja Belida. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan operasi produksi, penerapan standar keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, hingga kontribusi perusahaan terhadap produksi migas nasional.

HSSE Supervisor PT Sele Raya Belida, Dipo, mengatakan bahwa Lapangan Cantik saat ini menjadi salah satu kontributor utama produksi gas perusahaan yang terus dioptimalkan guna menjaga target lifting dan mendukung ketahanan energi nasional.


“Selain Lapangan Cantik, produksi gas PT SRB juga ditopang oleh kawasan Sungai Anggur Selatan (SAS). Saat ini perusahaan mengoperasikan delapan sumur produksi yang tersebar di kedua wilayah tersebut sebagai bagian dari pengembangan lapangan migas untuk menjaga keberlanjutan produksi,” ujarnya.

Ditambahkannya, seluruh sumur yang beroperasi merupakan sumur pengembangan baru dengan kedalaman rata-rata sekitar 2.000 meter dan berkontribusi terhadap pasokan gas nasional.

“Secara keseluruhan, PT SRB mengelola empat lapangan produksi dengan total area operasi sekitar delapan hectare,” ungkapnya.

Sementara itu, Field Superintendent PT SRB, Elvi Kurnia Hakim, mengapresiasi kunjungan para jurnalis yang tergabung dalam FJM Sumsel. Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap industri migas yang selama ini berkontribusi bagi perekonomian daerah maupun nasional.

“PT Sele Raya Belida merupakan operator Wilayah Kerja Belida yang berada di Cekungan Sumatera Selatan dan mengelola sejumlah lapangan migas, termasuk Lapangan Sungai Anggur dan Sungai Anggur Selatan yang telah memberikan kontribusi terhadap produksi migas nasional,” terangnya.

Elvi menjelaskan, Lapangan Cantik yang berdiri di kawasan yang sebelumnya didominasi kebun dan hutan karet kini menjadi salah satu fasilitas produksi gas andalan perusahaan. Nama “Cantik” dipilih sebagai simbol harapan agar lapangan tersebut mampu menghasilkan produksi gas yang optimal dan memberikan manfaat bagi perusahaan maupun negara.

“Sejak mulai beroperasi pada 2019, Lapangan Cantik menunjukkan kinerja positif. Bahkan, usia produksinya telah melampaui proyeksi awal yang diperkirakan hanya bertahan hingga 2024. Produksinya masih berjalan hingga saat ini berkat optimalisasi operasi dan masih adanya cadangan gas yang tersedia,” jelas Elvi.


Saat ini, Lapangan Cantik memproduksikan sekitar 1,3 MMSCFD gas dari Sumur Cantik-1 yang mulai beroperasi pada pertengahan 2020 setelah memperoleh persetujuan pengembangan dari SKK Migas.

“Produksi tersebut menjadikan Lapangan Cantik sebagai salah satu penopang pasokan gas PT SRB dalam memenuhi kebutuhan energi nasional,” tandasnya.

Selain berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional, PT Sele Raya Belida juga berupaya menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar wilayah operasinya. PR Supervisor PT Sele Raya Belida, Valentina, menegaskan perusahaan berkomitmen memberdayakan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

Menurutnya, sekitar 90 persen pekerja yang terlibat dalam operasional perusahaan berasal dari wilayah sekitar, baik tenaga kerja terampil maupun nonterampil.

“Perusahaan berkomitmen memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat lokal untuk terlibat dalam kegiatan operasional. Kehadiran industri migas diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” kata Valentina.

Selain membuka lapangan pekerjaan, PT SRB juga menggandeng pelaku usaha lokal untuk mendukung kebutuhan operasional perusahaan. Berbagai vendor dari Kabupaten Muara Enim, Kecamatan Lembak, hingga Kota Prabumulih dilibatkan dalam penyediaan barang dan jasa, transportasi, logistik, konstruksi, serta berbagai layanan pendukung lainnya.

“Melalui keterlibatan tenaga kerja dan vendor lokal, kami berharap manfaat keberadaan industri migas dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.


Valentina menambahkan, perusahaan tetap menempatkan aspek kesehatan, keselamatan kerja, keamanan, dan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional.

Seluruh kegiatan produksi dijalankan sesuai standar dan prosedur yang berlaku guna memastikan operasional berlangsung aman, andal, dan berkelanjutan.

“Setiap kegiatan migas tidak hanya mengedepankan keselamatan pekerja, tetapi juga harus memenuhi seluruh ketentuan lingkungan hidup dan perizinan yang telah ditetapkan. Kepatuhan terhadap regulasi menjadi bagian penting dalam menjalankan operasi perusahaan,” tegasnya.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri SH, mengatakan kegiatan field trip menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman media terhadap proses bisnis industri hulu migas yang berlangsung di lapangan.

Dikatakannya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada publik sehingga pemahaman yang baik mengenai operasional industri migas akan menghasilkan pemberitaan yang lebih komprehensif dan faktual.

“Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada publik. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperlihatkan secara langsung bagaimana proses operasi hulu migas dilakukan dengan mengedepankan aspek keselamatan, efisiensi, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Syafei.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan industri hulu migas memerlukan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Kegiatan eksplorasi dan produksi migas, kata dia, tidak dapat berjalan optimal tanpa sinergi antara pemerintah, perusahaan, masyarakat, serta berbagai stakeholder terkait.

Syafei menjelaskan bahwa SKK Migas bersama KKKS terus berupaya menjaga produksi migas nasional melalui berbagai program, mulai dari eksplorasi, pengeboran sumur baru, workover, well intervention, hingga optimalisasi lapangan yang telah berproduksi.

“Produksi migas harus terus dijaga melalui pengembangan lapangan dan pencarian cadangan baru. Tanpa upaya tersebut, produksi secara alami akan mengalami penurunan,” tegasnya.


Menurut Syafei, setiap kegiatan eksplorasi selalu membuka peluang ditemukannya cadangan migas baru yang dapat meningkatkan produksi sekaligus memberikan manfaat bagi negara, daerah, dan masyarakat.

“Seluruh kegiatan migas wajib memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk memiliki dokumen lingkungan dan perizinan yang lengkap. Kepatuhan terhadap regulasi menjadi syarat utama sebelum suatu proyek migas dapat dijalankan,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting bagi insan pers untuk memperoleh gambaran langsung mengenai aktivitas industri hulu migas. Dengan melihat langsung kondisi lapangan, wartawan dapat menghasilkan pemberitaan yang lebih mendalam, objektif, dan berimbang.

Selain meninjau fasilitas produksi, peserta field trip juga berdialog dengan jajaran manajemen dan pekerja lapangan mengenai tantangan serta peluang pengembangan industri hulu migas di Sumatera Selatan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan terkait operasional, keselamatan kerja, hingga program tanggung jawab sosial perusahaan.

“Melalui kegiatan Media Field Trip ini, SKK Migas, KKKS, dan FJM Sumsel berharap kolaborasi yang selama ini terjalin dapat terus diperkuat sehingga informasi mengenai sektor hulu migas dapat tersampaikan secara luas kepada masyarakat sekaligus mendukung terciptanya iklim investasi energi yang kondusif di Sumatera Selatan,” pungkasnya. (Nald)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.