Wilayah Kerja Rokan Masih Sumbang 30 Persen Produksi Nasional, PHR Genjot Inovasi Lapangan Tua
TANGERANG, SS.CO.ID – Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus melakukan berbagai inovasi dan penerapan teknologi untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) Rokan, yang hingga kini masih menjadi salah satu kontributor terbesar produksi minyak nasional.
Dalam pemaparannya kepada awak media di ajang IPA Convex 2026, Rabu (20/05/2026), General Manager PT Pertamina Hulu Rokan, Andre Wijanarko menjelaskan bahwa WK Rokan saat ini masih menyumbang sekitar 30 persen produksi minyak nasional.
Salah satu lapangan andalan di WK Rokan adalah Lapangan Minas yang hingga kini masih mampu memproduksi sekitar 28 ribu barel minyak per hari. Angka tersebut dinilai cukup besar dibandingkan sejumlah lapangan migas lain yang dikelola kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Indonesia.
![]() |
| General Manager PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Andre Wijanarko |
Menurutnya, keberhasilan mempertahankan produksi di Lapangan Minas tidak terlepas dari penerapan berbagai fase pengelolaan produksi migas, mulai dari primary recovery hingga penerapan teknologi enhanced oil recovery melalui metode waterflood.
“Lapangan Minas sudah diproduksikan sejak puluhan tahun lalu. Awalnya hanya menggunakan pompa untuk mengangkat minyak. Namun seiring waktu, diterapkan teknologi waterflood untuk menjaga tekanan reservoir sehingga produksi tetap optimal,” ujarnya.
Dibeberkannya, setelah alih kelola dari Chevron kepada Pertamina, tim di WK Rokan kembali melakukan evaluasi menyeluruh terhadap potensi bawah permukaan yang masih tersisa di lapangan-lapangan tua tersebut.
"Dari hasil evaluasi, ditemukan masih banyak potensi yang dapat dikembangkan, termasuk mengaktifkan kembali sumur-sumur idle atau sumur yang telah lama tidak berproduksi," terangnya.
Setiap tahun, Pertamina Hulu Rokan melakukan pembukaan kembali sejumlah sumur berdasarkan kajian teknis dan data reservoir terbaru.
Selain itu, perusahaan juga mulai mengembangkan lapisan reservoir yang sebelumnya dianggap sulit diproduksikan karena memiliki permeabilitas rendah atau kemampuan aliran minyak yang kecil.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pertamina menerapkan berbagai teknologi baru, termasuk pemanfaatan metode Low Resistivity Reservoir (LRR) yang saat ini menjadi salah satu fokus pengembangan industri hulu migas nasional.
Tak hanya itu, Pertamina Hulu Rokan juga fokus mengembangkan proyek steam flood di lapangan heavy oil atau minyak berat yang memiliki karakteristik khusus. Pada metode ini, uap panas diinjeksikan ke reservoir untuk menurunkan kekentalan minyak sehingga lebih mudah diproduksikan ke permukaan.
Menurutnya, melalui teknologi steam flood, minyak yang sebelumnya sulit mengalir menjadi lebih mudah diproduksikan. Teknologi ini menjadi salah satu andalan untuk meningkatkan recovery factor lapangan tua,” jelasnya.
"Saat ini Pertamina Hulu Rokan terus menjalankan berbagai program peningkatan produksi secara bertahap dan terencana melalui investasi, monitoring produksi, serta penerapan teknologi modern guna mendukung target ketahanan energi nasional dan peningkatan lifting minyak Indonesia," pungkasnya.



Post a Comment