Masyarakat Tumbuh Bersama Migas, PHR Zona 4 Perkuat Kemandirian UMKM


PRABUMULIH, SS.CO.ID
-- Di balik perannya sebagai penyedia energi nasional, industri hulu minyak dan gas bumi (migas) juga turut memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Kehadiran sektor ini tidak hanya memastikan pasokan energi bagi kebutuhan nasional, tetapi juga menciptakan efek berganda yang dirasakan langsung oleh masyarakat melalui berkembangnya UMKM, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan warga, hingga pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan sumber daya manusia.

Di berbagai daerah penghasil migas, aktivitas industri turut menggerakkan roda perekonomian lokal. Mulai dari tumbuhnya usaha kecil dan menengah, meningkatnya peluang kerja bagi masyarakat sekitar, hingga hadirnya program-program pelatihan yang mendorong kemandirian ekonomi warga. Dampak tersebut menjadi bukti bahwa sektor hulu migas tidak hanya berfokus pada produksi energi, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Industri hulu migas tak hanya menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui berbagai program pemberdayaan, PHR Zona 4 mendorong UMKM, pertanian organik, ekonomi kreatif, hingga pemberdayaan perempuan agar tumbuh mandiri dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan perusahaan migas, khususnya oleh PT Pertamina Hulu Rokan Regional 1 Sumatra melalui PT Pertamina EP Prabumulih Field dan PT Pertamina EP Limau Field yang berada di bawah pengelolaan PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4.

Program-program tersebut difokuskan pada pengembangan ekonomi masyarakat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga penguatan sektor usaha berbasis potensi lokal agar mampu tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

General Manager (GM) Zona 4, Djujuwanto menekankan pentingnya kehadiran industri migas yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar, tidak hanya dalam sektor energi tetapi juga dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Menurutnya, perusahaan terus mendorong berbagai program pemberdayaan agar masyarakat dapat berkembang bersama industri yang beroperasi di wilayah tersebut.

“PHR Zona 4 ingin tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, kami berupaya menghadirkan program-program yang tidak hanya bermanfaat saat ini, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian dan keberlanjutan bagi warga sekitar,” ungkapnya.

Ia menyebut keberhasilan perusahaan tidak cukup dilihat dari capaian produksi energi semata.

“Bagi kami, keberhasilan juga berarti ketika masyarakat di sekitar wilayah operasi dapat merasakan manfaat nyata, memiliki peluang usaha, kehidupan yang lebih sehat, serta kesejahteraan yang terus meningkat,” tuturnya.

Rumah Kreatif Boek Khaman, Batik Lokal Jadi Sumber Penghasilan

Salah satu program unggulan hadir melalui Rumah Kreatif Boek Khaman di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim. Program yang didukung PHR Zona 4 itu menjadi pusat pelatihan dan produksi kreatif berbasis budaya lokal. Di sebuah rumah sederhana di Desa Lubuk Raman, aroma malam batik dan tawa para perempuan terdengar bersahut-sahutan.

Rumah Kreatif Boek Khaman menjadi ruang pemberdayaan masyarakat berbasis budaya lokal di Desa Lubuk Raman, Muara Enim.

Di antara mereka, Etika Oktasari tampak tekun mengaduk cairan berwarna kecokelatan di ember besar. Bukan pewarna batik, melainkan limbah batik yang kini justru menjadi sumber penghasilan baru. Rumah Kreatif Boek Khaman dikenal melalui produksi Batik Boek Khaman yang mengangkat motif khas Sumatra Selatan.

Selain melestarikan budaya, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya perempuan, melalui pelatihan membatik dan pengembangan usaha kreatif berbasis lingkungan. Bersama tim akademisi Universitas Sriwijaya, masyarakat dilatih mengolah limbah cair batik menjadi air baku dan cat tembok alami bernilai jual.

Di halaman belakang rumah kreatif kini berdiri Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mini yang mampu mengolah limbah batik agar lebih ramah lingkungan sekaligus menghasilkan produk baru.

“Dulu limbah ini kami buang begitu saja ke parit. Sekarang justru bisa jadi cat tembok dan menambah penghasilan,” ujar Etika Oktasari, Ketua Kelompok Batik Boek Khaman.

Program tersebut dinilai berhasil memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa sekaligus mendorong praktik produksi ramah lingkungan.

Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri mengatakan program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan KKKS seperti PHR Zona 4 menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan industri hulu migas.

Dibeberkannya, industri migas tidak hanya berperan menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.

“SKK Migas mendorong seluruh KKKS menjalankan program pemberdayaan yang berkelanjutan dan tepat sasaran, sehingga masyarakat dapat tumbuh bersama industri migas,” ujarnya.

Ia menilai program yang dijalankan PHR Zona 4 telah mengarah pada peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat, bukan sekadar bantuan sosial semata.

“Ketika masyarakat merasakan manfaat dari keberadaan industri migas, maka akan tercipta hubungan yang harmonis dan mendukung keberlanjutan sektor energi nasional,” katanya.

Dari Lahan Tidur Menjadi Sentra Produk Herbal

Sementara itu di Kota Prabumulih, Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning tumbuh menjadi contoh sukses pemberdayaan perempuan melalui pertanian organik dan produk herbal. Berawal dari pemanfaatan lahan tidur pada 2019, kelompok yang beranggotakan 30 perempuan itu kini berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal di Kelurahan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih Barat.

Di bawah kepemimpinan Tri Ningsih, KWT Kemuning mendapat pendampingan intensif dari PEP Prabumulih Field, mulai dari pelatihan pembuatan pupuk organik, teknik pertanian berkelanjutan, hingga pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi.

Berawal dari lahan tidur, KWT Kemuning tumbuh menjadi kelompok tani perempuan yang aktif mengembangkan pertanian organik dan budidaya TOGA di Kota Prabumulih.

Berbagai tanaman obat keluarga (TOGA) seperti jahe, kunyit, temulawak, kencur, hingga bawang dayak kini dibudidayakan bersama sayuran organik lainnya. Hasil panen tersebut kemudian diolah menjadi produk herbal, kerupuk bawang dayak, keripik jagung, hingga minuman herbal kemasan.

“Panen lebih banyak, biaya lebih kecil, lahan makin subur. Itu berkat pupuk organik yang kami buat sendiri,” ujar Ketua KWT Kemuning.

KWT Kemuning kini memiliki galeri produk sendiri dan memperluas pemasaran melalui gerai di Pasar Tradisional Modern (PTM). Produk mereka juga rutin tampil dalam berbagai pameran hingga tingkat provinsi.

Kepala Dinas Pertanian Kota Prabumulih, Alfian SP, mengapresiasi perkembangan kelompok tersebut.

“KWT Kemuning menjadi contoh baik bagaimana pertanian organik dan produk herbal dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Serat Daun Nanas Disulap Jadi Produk Fashion Bernilai Tinggi

Selain sektor pertanian, PHR Zona 4 Field Prabumulih juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis limbah daun nanas melalui Rumah Busana Riady di Kelurahan Gunung Ibul, Prabumulih Timur.

Dari limbah daun nanas menjadi karya bernilai tinggi. Rumah Busana “Riady” menghadirkan inovasi tenun serat nanas sebagai produk fashion khas Prabumulih yang ramah lingkungan.

UMKM yang dirintis Rita Mulyadi sejak 2008 itu mengolah serat daun nanas menjadi kain tenun dan berbagai produk fashion bernilai tinggi seperti pakaian, topi, tanjak, hingga sandal. Setelah sempat terdampak pandemi Covid-19, usaha tersebut kembali berkembang sejak menjadi mitra binaan PHR Zona 4 pada 2022 melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

“Alhamdulillah, sejak menjadi mitra binaan PHR Zona 4, Rumah Busana Riady mulai dikenal masyarakat. Kini banyak pesanan datang dari luar daerah bahkan luar Pulau Sumatera,” jelas Rita.

PHR Zona 4 memberikan pendampingan, pelatihan, bantuan alat produksi seperti mesin decorticator dan alat tenun bukan mesin (ATBM), hingga dukungan pemasaran melalui berbagai pameran nasional dan internasional. Usaha tersebut kini juga membuka lapangan kerja bagi sekitar 30 warga sekitar, mayoritas ibu rumah tangga, yang bekerja sebagai penenun.

Senior Manager (SM) PHR Zona 4 Prabumulih Field, Muhammad Luthfi Ferdiansyah mengatakan perusahaan berkomitmen menghadirkan operasi migas yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar wilayah kerja.

Terangnya, program pemberdayaan yang dijalankan tidak hanya bersifat bantuan sesaat, tetapi diarahkan untuk mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

“Kami ingin masyarakat ikut tumbuh bersama perusahaan. Hubungan yang harmonis dengan warga sekitar menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasi migas,” ujarnya.

Di balik aktivitas industri migas, tumbuh harapan baru bagi masyarakat. Perempuan semakin berdaya, UMKM berkembang, dan potensi lokal diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi melalui program pemberdayaan PHR Zona 4.

Ketahanan Energi dan Kesejahteraan Warga Harus Berjalan Seiring

Direktur Utama PHR Regional 1, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa ketahanan energi nasional harus berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Kehadiran PHR menjadi momentum menunjukkan bahwa keberhasilan industri migas tidak hanya diukur dari produksi energi, tetapi juga dari kepedulian sosial yang nyata bagi masyarakat,” ungkapnya saat hadir di ajang IPA Convex 2026 di Jakarta.

Hal senada disampaikan Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1 Sumatra, Iwan Ridwan Faizal. Ia mengatakan program pemberdayaan masyarakat difokuskan untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian kelompok binaan.

“Yang paling penting bukan hanya omzet naik, tetapi bagaimana UMKM bisa mandiri dan naik kelas,” terangnya.

Industri Migas dan Masyarakat Tumbuh Bersama

Sementara itu, Manager CSR PHE, Elvina Winda Sagala, menegaskan bahwa program pemberdayaan masyarakat menjadi bukti bahwa industri hulu migas dapat tumbuh harmonis bersama masyarakat.

“Bisnis operasi migas bukan berjalan sendiri, tetapi juga mengangkat masyarakat agar tumbuh bersama perusahaan,” tutur Elvina.

Melalui berbagai program tersebut, industri hulu migas menunjukkan bahwa keberadaannya tidak hanya menghasilkan energi untuk negeri, tetapi juga menghadirkan perubahan sosial, membuka peluang ekonomi, serta memperkuat kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Di balik aktivitas industri migas, tumbuh harapan baru bagi masyarakat sekitar wilayah operasi. Perempuan yang dulu hanya mengurus rumah tangga kini mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi, UMKM lokal naik kelas, dan lahan yang sebelumnya terbengkalai berubah menjadi sumber kehidupan. Inilah wajah lain industri hulu migas yang hadir bukan hanya sebagai penghasil energi, tetapi juga penggerak perubahan sosial. (Nald)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.