Merawat Sawah, Mengolah Jerami, Menumbuhkan Harapan di Pengabuan


D
i Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, sawah bukan sekadar tempat menanam padi. Lahan rawa yang dahulu menghasilkan panen terbatas kini perlahan berkembang menjadi sumber penghidupan, sementara jerami sisa panen mulai dilirik sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi. Perubahan ini turut membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, termasuk kelompok perempuan yang mengolah tanaman pekarangan menjadi produk herbal.

Perjalanan tersebut terlihat dari pengalaman Sarbini, 55 tahun, yang mulai menggarap lahan rawa seluas dua hektare pada 2014. Saat itu, hasil panennya hanya berkisar satu hingga dua ton per hektare akibat serangan hama dan keterbatasan pengetahuan. Kini, melalui proses belajar dan pendampingan, produktivitas pertanian mulai meningkat.

Perkembangan inilah yang disaksikan puluhan jurnalis peserta Media Field Trip Zona 4 2026 saat mengunjungi wilayah kerja Pertamina EP (PEP) Adera Field pada Kamis, 17 September 2026. Mereka mlihat bagaimana potensi lokal, mulai dari sawah, jerami, hingga tanaman herbal, dikembangkan menjadi peluang untuk memperkuat  ekonomi dan mendorong kemandirian masyarakat desa.

Belajar dari Lahan Rawa

Melalui Program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) yang didukung Pertamina EP Adera Field, lahan rawa dikembangkan menjadi sawah produktif, sementara jerami dan tanaman herbal mulai diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Sarbini memulai usaha taninya dengan banyak ketrbatasan. Lahan rawa yang digarap nya memiliki potensi, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Serangan walang sangit dan burung pipit kerab mengganggu tanaman padi.

Ia memilih bertahan. Dari satu musim ke musim berikutnya, pengalaman mengajarkannya memahami kondisi lahan dan cara merawat tanaman. Hasilnya mulai  terlihat pada 2016, ketika produktivitas panen meningkat menjadi sekitar tiga ton per hektare.

“Yang penting, kami bisa membuktikn bahwa lahan rawa ini tidak rusak dan bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan. Dengan  cara yang tepat, lahan ini bisa menghasilkan,” ujar Sarbini.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa lahan rawa bukan semata-mata wilayah yang sulit diolah. Dengan teknik budidaya yang sesuai, kawasan itu bisa menjadi sumber pangan dan penghasilan bagi masyarakat. Desa Pengabuan diperkirakan memiliki sekitar 1.000 hektare kawasan rawa. Potensi tersebut cukup besar, tetapi pengelolaannya  memerlukan pendampingan, pengetahuan pertanian, serta cara budidaya yang  menyesuaikan kondisi setempat.

Upaya memperkuat kemampuan petani kemudian mendapat  dukungan melalui Program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA), yang diresmikan pada 2022 dengan dukungan PEP Adera Field.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan hasil panen. Petani juga didorong agar mampu mengelola lahan dengan lebih baik dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.

Pada periode 2017–2023, pendampingan bersama LSM Carios dari Bandung turut memperkenalkan sejumlah metode pertanian, antara lain Salibu dan  Jajar Legowo atau Jarwo. Para petani juga mendpat kesempatan belajar ke Sumatera Barat untuk menambah pengetahuan.

Perubahan mulai terlihat pada luas lahan binaan. Berdasarkan data program, luas lahan meningkat dari sekitar 18 hektare pada 2024 menjadi 27 hektar pada 2026. Produktivitas yang sebelumnya berkisar empat ton per hektare dilaporkan naik hingga sekitar 6,2 ton per hektare.

Dari kawasan cetak sawah yang diperkirakan mencapai 1.000 hektare, sekitar 200 hektare telah menjadi lahan produktif.

Bagi petani seperti Sarbini, angka-angka tersebut memiliki arti sederhana: lahan yang sebelumnya sulit memberikan hasil kini semakin menjanjikan. Produktivitas  yang meningkat membuka peluang untuk memperbaiki pendapatan dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Padi Warisan yang Terus Dikembangkan

Program PERMATA mendorong masyarakat Desa Pengabuan, Kabupaten PALI, mengembangkan pertanian lahan rawa, mengolah jerami, dan memanfaatkan tanaman herbal untuk memperkuat ekonomi lokal serta mendorong kemandirian desa.

Di tengah upaya meningkatkan hasil panen, Kelompok Tani Barokah  tetap mempertahankan padi SRAI, varietas lokal yang dikenal masyarakat sejak 1991.

Padi ini memiliki umur panen sekitar 110 hingga 130 hari dan dapat ditanam di sawah tadah hujan maupun lahan irigasi. Namun, rumpunnya yang rimbun membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk mengendalikan hama tikus.

Bagi petani, mempertahankan varietas lokal bukan hanya soal menjaga kebiasaan lama. Padi yang telah dikenal masyarakat juga menyimpan potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari ketahanan pangan desa.

Melalui PERMATA, Kelompok Tani Barokah mulai melakukan uji coba penangkaran benih sendiri pada 2026 di lahan sekitar 10 hektare. Upaya ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan benih sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar.

Petani juga mencoba menghemat penggunaan benih. Jika metode  konvensional membutuhkan sekitar 25 kilogram benih per hektare, metode yang dikembangkan untuk SRAI menggunakan sekitar lima kilogram per hektare.

Upaya tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan lokal dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Varietas yang diwriskan dari generasi sebelumnya  ttap dipertahankan, sementara teknik budidayanya terus diperbaiki sesuai kebutuhan.

Ketika Jerami Tidak Lagi Dianggap Sampah

Jerami yang dahulu kerap dianggap sebagai limbah panen kini mulai dilirik sebagai bahan baku produk bernilai tambah oleh masyarakat Desa Pengabuan, Kabupaten PALI.

Cerita dari Pengabuan tidak berhenti ketika padi dipanen. Setelah gabah dikumpulkan, hamparan sawah biasanya menyisakan jerami dalam jumlah besar.

Dahulu, sebagian petani memilih membakar sisa panen itu agar lahan lebih mudah dibersihkan. Cara tersebut memang praktis, tetapi menghasilkan asap dan berpotensi mencemari udara.

Melalui pengembangan PERMATA, jerami mulai dilihat dari sudut pandang berbeda. Sisa panen yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

Pada 2025, pemetaan sosial yang dilakukan PEP Adera Field mengidentifikasi potensi pengolahaan jerami sebagai bagian dari pengembangan usaha masyarakat. Petani kemudian memperoleh pelatihan dan dukungan peralatan untuk mengolahnya  menjadi briket serta bahan baku produk ramah lingkungan, termasuk wadah yang diarahkan sebagai alternatif bagi sebagian produk plastik sekali pakai.

Potensinya tidak sedikit. Setiap hektare sawah diperkirakan menghasilkan sekitar empat ton jerami. Dengan luas lahan binaan mencapai 27 hektare, potensi bahan baku jerami dapat mencapai sekitar 108 ton  dalam satu musim panen. Angka tersebut merupakan perkiraan potensi, bukan jumlah jerami yang seluruhnya telah diolah.

Bagi Sarbini, perubahan cara pandang terhadap jerami menjadi pengalaman tersendiri. Sesuatu yang sebelumnya dibuang kini mulai dilihat sebagai peluang usaha.

“Jerami yang dulu cuma jadi sampah ternyata bisa membawa berkah. Ngebulnya tidak lagi di sawah. Alhamdulillah, ngebulnya didapur karena pemasukan bertambah,” tuturnya.

Pernyataan Sarbini menggambarkan perubahan yang sederhana, tetapi berarti bagi petani. Asap dari pembakaran jerami diharapkan berkurang, sementara kegiatan pengolahan membuka peluang tambahan penghasilan.

Program tersebut juga memperkirakan potensi pengurangan emisi hingga sekitar 18 ton CO₂ per tahun. Besaran pengurangan yang benar-benar tercapai bergantung pada jumlah jerami yang berhasil dialihkan dari pembakaran.

Dengan demikian, upaya menjaga lingkungan berjalan bersama usaha memperkuat ekonomi. Limbah pertanian tidak lagi hanya  menjadi persoalan setelah panen, tetapi mulai menjadi bagian dari kegiatan produktif masyarakat.

Dari Pekarangan, Perempuan Membangun Usaha

Di luar sawah, kegiatan pemberdayaan juga tumbuh melalui kelompok perempuan. Pekarangan rumah yang sebelumnya  dimanfatkan untuk kebutuhan sehari-hari mulai dikembangkan sebagai sumber bahan baku usaha.

Herketika, 45 tahun, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Selaras Alam, menjadi salah satu perempuan yang terlibat dalam pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kelor, bunga telang, jahe,  temulawak, dan berbagai tanaman herbal lainnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan kelompok.

Melalui PERMATA, anggota kelompok mendapatkan pengetahuan tentang budidaya dan pengolahan herbal secara lebih higienis. Fasilitas rumah pengering atau dry house, greenhouse, serta sistem irigasi tetes otomatis turut mendukung kegiatan tersebut.

Tanaman yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga kini mulai diolah menjadi produk seperti sirup rosella, ramuan herbal instan, dan teh herbal atau tisane.

“Dulu kami hanya menanam dan memanfaatkan tanaman seadanya. Sekarang kami lebih memahami cara merawat tanaman dan mengolah hasil kebun menjadi produk,” terangnya.

Pengembangan produk juga disertai dukungan untuk memperkuat usaha. Berdasarkan data program, sebanyak 36 produk kelompok memperoleh dukungan pengembangan usaha dan legalitas, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB), perizinan P-IRT, serta sertifikasi halal sesuai jenis produk dan ketentuan yang berlaku.

Bagi usaha kecil, legalitas merupakan salah satu langkah penting untuk memperluas pemasaran. Namun, pekerjaan tidak berhenti pada  pengurusan dokumen. Kelompok juga perlu menjaga kualitas produk, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, dan mencari pasar yang bisa menerima produk mereka secara berkelanjutan.

Bagi Herketika, kegiatan tersebut membuka kesempatan untuk lebih aktif membantu perekonomian keluarga.

“Rasanya lebih tenang karena  kami bisa lebih mandiri untuk keluarga,” katanya.

Pengalaman KWT Selaras Alam menunjukan bahwa usaha kreatif tidak selalu membutuhkan lahan luas atau modal besar. Pekarangan rumah dapat menjadi awal kegiatan ekonomi apabila dikelola dengan keterampilan, pendampingan, dan perencanaan usaha yang baik.

Pendampingan untuk Menuju Kemandirian

Semangat masyarakat Desa Pengabuan, Kabupaten PALI, menjadi energi untuk membangun kemandirian ekonomi. Melalui Program PERMATA, potensi lokal diarahkan menjadi sumber penghidupan yang produktif dan berkelanjutan.

Program pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan peralatan. Kelompok penerima manfaat juga perlu memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha, menjaga kualitas produk, menghitung biaya, dan menemukan pembeli.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa keberhasilan program perlu dilihat dari  kemampuan masyarakat untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.

“Sebagai pendamping, Pertamina mengarahkan program ini pada pemberdayaan yang berjalan bersama bantuan. Keberhasilan program adalah ketika kelompok atau masyarakat yang didampingi mampu menuju kemandirian dan keberlanjutan,” terangnya.

Pandangan tersebut menjadi penting karena keberlanjutan usaha tidak dapat bergantung selamanya pada pendampingn. Setelah  mendapat pelatihan dan fasilitas, kelompok masyarakat perlu terus mengembangkan produk, memperluas pasar, dan mengatur keuangan usaha.

Senior Officer CID Zona 4, Dedi Zikrian, menilai pemanfaatan bahan alami dan pengembangan pertanian organik menjadi bagian dari upaya membangun kegiatan  produksi yang lebih ramah lingkungan.

Data program juga mencatat penghematan pembelian pupuk kimia pada lahan binaan seluas 27 hektare. Biaya pembelian pupuk kimia yang sebelumnya dilaporkan sekitar Rp227,25 juta per tahun disebut dapat ditekan hingga tidak ada pembelian pupuk kimia oleh kelompok penerima manfaat melalui penggunaan pupuk organik buatan sendiri

Penghematan tersebut berlaku pada komponen pembelian pupuk kimia, bukan berarti seluruh biaya pertanian menjadi nol.

“Berdasarkan data program, sekitar 55 kepala keluarga menjadi penerima manfaat langsung PERMATA. Sementara itu, sekitar 1.366 kepala keluarga di Desa Pengabuan tercatat sebagai penerima manfaat tidak langsung,” ungkapnya.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Ujang Syayib, mengatakan kawasan cetak sawah di Pengabuan sudah menghasilkan, tetapi produktivitasnya masih perlu ditingkatkan.

“Bukan tidak berproduksi, tetapi produksinya belum maksimal. Dengan dukungan bibit yang baik dan pendampingan, hasilnya bisa lebih optimal,” jelasnya.

Penguatan kelompok tani juga menjadi bagian dari proses tersebut. Petani yang sebelumnya menjalankan kegiatan masing-masing kemudian bergabung dalam Kelompok Tani Barokah agar koordinasi dan pelaksanaan kegiatan bersama lebih mudah dilakukan.

Kepala Desa Pengabuan, Supriyanto, turut mengapresiasi dukungan PEP Adera Field dan berharap program pemberdayaan dapat terus berkembang.

“Keterlibatan pemerintah desa, pemerintah daerah, kelompok tani, kelompok  perempuan, dan pendamping menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan. Masing-masing memiliki peran, mulai dari pengmbangan ketrampilan hingga membantu membuka peluang pemasaran,” ungkapnya.

Energi Migas dan Energi Masyarakat

Potensi Desa Pengabuan, Kabupaten PALI, terus dikembangkan melalui pertanian dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Desa Pengabuan berada di sekitar wilayah operasi hulu minyak dan gas bumi PEP Adera Field. Di kawasan ini, kegiatan produksi energi berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat yang bergantung pada pertanian dan usaha lokal.

Senior Manager PEP Adera Field, Adam Syukron Nasution, mengatakan perusahaan berupaya memberikan kontribusi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasinya melalui program pemberdayaan.

“Sudah menjadi kewajiban PEP Adera Field untuk memberikan  kontribusi melalui program pemberdayaan terhadap wilayah ring satu,” ucapnya.

Pada 2026, PEP Adera Field mencatat produksi sekitar 3.840 barel minyak per hari atau BOPD dan 24,43 juta kaki kubik gas per hari atau MMSCFD.

Di sisi lain, PERMATA diarahkan untuk membantu masyarakat mengembangkan potensi ekonomi yang telah tersedia. Sawah menjadi sumber pangan dan penghidupan, jerami membuka peluang pengolahan produk, sementara tanaman herbal memberikan ruang bagi usaha kreatif yang dikelola kelompok perempuan.

Ketiga kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi lokal dapat berjalan melalui banyak jalur. Tidak hanya dengan meningkatkan  hasil produksi, tetapi juga dengan memanfaatkan sisa bahan, mengolah hasil kebun dan  membangun keterampilan usaha.

Energi yang dihasilkan dari kegiatan migas memiliki peran dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, semangat masyarakat untuk belajar, bekerja sama, dan menciptakan peluang baru menjadi kekuatan lain yang membantu menggerakkan ekonomi desa.

Merawat Harapan dari Desa

Dari lahan rawa hingga produk olahan, perjalanan masyarakat Desa Pengabuan menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi dapat tumbuh dari potensi yang telah lama dimiliki. Sawah, jerami, dan tanaman pekarangan kini menjadi bagian dari upaya membangun harapan baru bagi masyarakat melalui Program PERMATA.

Perubahan di Desa Pengabuan tidak terjadi dalam semalam. Ada masa ketika hasil panen belum memadai, ada proses belajar yang membutuhkan waktu, dan ada  upaya untuk menemukan cara baru agar sumber daya desa bisa memberikan nilai lebih.

Sarbini memulainya dari dua hektare lahan rawa pada 2014. Kini, produktivitas lahan binaan PERMATA dilaporkan mencapai sekitar 6,2 ton per hektare. Di tempat yang sama, jerami mulai dilirik sebagai bahan baku usaha, padi SRAI dikembangkan  melalui penangkaran benih dan tanaman pekarangan diolah menjadi produk oleh kelompok perempuan.

Perjalanan itu masih menyisakan pekerjaan. Petani harus terus menjaga produktivitas dan mengendalikan hama. Kelompok pengolah jerami perlu memastikan produknya memiliki pasar. Sementara itu, usaha herbal membutuhkan kualitas yang konsisten dan pemasarn yang mampu menjangkau lebih banyak konsumen.

Namun, masyarakat telah memiliki modal awal berupa pengalaman, keterampilan, dan potensi sumber daya lokal. Pendampingan yang tepat dapat membantu modal tersebut berkembang menjadi usaha yang lebih kuat.

Pengalaman Pengabuan menunjukkan bahwa peluang ekonomi tidak selalu datang dari sesuatu yang baru. Sawah, jerami, dan tanaman  pekarangan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarkat. Yang berubah adalah cara memandang dan mengelolanya.

Dari rawa yang perlahan menjadi sawah produktif, jerami yang mulai bernilai ekonomi, hingga tanaman herbal yang diolah menjadi produk, masyarakat  Pengabuan sedang merintis jalan menuju kemandirian.

Perjalanan itu belum selesai. Tetapi dari desa ini, tumbuh pelajaran bahwa energi masyarakat bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan sesuatu, melainkan juga kemauan untuk belajar, berinovasi, dan menjaga agar  manfaatnya dapat dirasakan oleh keluarga serta generasi berikutnya. (Nald)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.