Herman Deru Dukung Penuh Groundbreaking Hilirisasi DME Tanjung Enim, Dorong Kemandirian Energi Sumsel
MUARA ENIM – Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru menyatakan dukungan penuh terhadap dimulainya groundbreaking Proyek Hilirisasi Nasional Fase II pengembangan coal to dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim. Kegiatan tersebut digelar di PLTU Sumsel-8 milik PT Huadian Bukit Asam Power, Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Kamis (30/4/2026).
Proyek strategis nasional ini menjadi salah satu langkah penting pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi, khususnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG melalui pemanfaatan batu bara menjadi energi alternatif DME.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru menegaskan bahwa proyek tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat Sumatera Selatan, terutama dalam menjawab kebutuhan energi rumah tangga yang selama ini masih bergantung pada LPG.
Ia mengaku mengikuti perkembangan proyek tersebut sejak masa pandemi COVID-19, ketika masyarakat sempat mengalami kesulitan mendapatkan LPG hingga harus mengantre panjang. Kondisi itu, menurutnya, menjadi pelajaran penting tentang perlunya kemandirian energi berbasis potensi dalam negeri.
“Waktu itu kita melihat sendiri bagaimana masyarakat harus mengantre LPG. Padahal kita ini daerah penghasil energi. Karena itu, proyek ini menjadi sangat penting untuk menjawab kebutuhan energi masyarakat Sumsel,” ujar Herman Deru.
Ia juga menyoroti ironi yang sempat terjadi, ketika Sumatera Selatan sebagai daerah kaya sumber daya energi masih menghadapi keterbatasan pasokan gas. Namun demikian, pemerintah terus berupaya menghadirkan solusi, salah satunya melalui pengembangan jaringan gas (jargas) oleh PT PGN dan Pertamina.
Lebih lanjut, Herman Deru menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah melakukan komunikasi dengan PT Bukit Asam Tbk terkait pengembangan energi alternatif, termasuk DME yang sejalan dengan kebijakan nasional dalam memperkuat kemandirian energi.
Menurutnya, program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor energi, termasuk melalui pengembangan biodiesel seperti B50 serta optimalisasi sumber daya lokal.
“Kami di Sumsel siap mendukung, termasuk bersama pelaku usaha seperti GAPKI, untuk memastikan ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan dalam pengembangan energi ini,” katanya.
Herman Deru berharap proyek hilirisasi ini dapat segera berjalan optimal sehingga tidak hanya menjawab kebutuhan energi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas, seperti pembukaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, serta transfer teknologi bagi tenaga kerja lokal.
Di sisi lain, ia juga menyampaikan perkembangan positif sektor kelistrikan di Sumatera Selatan. Saat ini hampir seluruh desa telah menikmati listrik, sementara wilayah yang belum terjangkau terus didorong untuk mendapatkan solusi alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Sumatera Selatan, kami mendukung penuh proyek ini. Semoga berjalan lancar dan membawa manfaat besar bagi daerah maupun nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Pembina Hilirisasi PT Bukit Asam Tbk, Turino Yulianto, menjelaskan bahwa proyek DME ini merupakan upaya optimalisasi pemanfaatan batu bara kalori rendah (low rank coal) yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Melalui proses hilirisasi, batu bara tersebut akan diolah menjadi DME yang dapat menjadi substitusi LPG. Untuk memproduksi sekitar 1,4 juta ton DME per tahun, dibutuhkan sekitar 5 hingga 6 juta ton batu bara yang seluruhnya bersumber dari Sumatera Selatan.
Produk DME tersebut nantinya akan diserap dan didistribusikan oleh PT Pertamina Patra Niaga sebagai bagian dari sistem energi nasional.
Proyek ini juga menjadi bagian dari groundbreaking 13 proyek hilirisasi tahap II yang dipusatkan di Cilacap dan dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Dalam arahannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya efisiensi, keberlanjutan, dan manfaat nyata bagi masyarakat dalam setiap proyek hilirisasi yang dijalankan pemerintah.
Proyek DME Tanjung Enim diharapkan menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia, khususnya dari Sumatera Selatan.

Post a Comment