Jawa atau Sunda?!
Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)
Masyarakat daerah yang jauh dari pusat, Jakarta, khususnya terhadap warga pribumi, dalam arti bukan pendatang seperti Arab dan Cina, atau pencari suaka termasuk etnis Jawa dan Sunda, senantiasa terpengaruh oleh budaya yang dibawa. Disadari atau tidak, gerak hidup mereka akhirnya tidak terlepas dari bentuk tersebut. Beragama, bermasyarakat sampai bertutur kata, meski terdapat kararakter tertentu, namun padanya tetap ada.
Peran pendatang memang selain tersebut di atas; memberi pengaruh namun juga bersifat problamatik. Semangat untuk saling mengenal nyatanya menjadi tantangan tatkala dihadapkan dengan ketangguhan dalam mempertahankan ciri atau originalitas. Pada ranah perkembangan, kesulitan mempertahankan karakter pribumi dengan tumbuh kembang dalam keberagamaan bahkan menjadi kesulitan tersendiri. Puncaknya tampak jelas dengan eksistensi masyarakat pedalaman. Pada kondisi tertentu bahkan harus "berperang" dengan masyarakat yang disebut berperadaban.
Namun, bingkai NKRI menjadi potret sederhana dari bentuk dinamika diatas. Cara atau mungkin menggunakan istilah yang cukup mendekati yaitu penghayatan beragama, pendidikan serta cara hidup bermasyarakat yang membentuk peradaban suatu daerah tidak lepas dari pusatnya tersebut serta sebenarnya juga demikian sebaliknya jika menggunakan perspektif di atas. Masyarakat ternyata banyak juga berkontribusi nyata di sana.
Pembagian etnis daerah, Jawa, dan Sunda adalah pemetaan dengan skema besar. Secara sederhana, terhadap pribumi terdapat kesempatan untuk tumbuh kembang dengan warna dari luar atau pilihan bertahan sepenuhnya, namun bisa juga menggabungkan keduanya.
Orang Jawa, mungkin tidak akan heran saat berkunjung ke suatu daerah pedalaman Sumatera misalnya, jika menyaksikan masyarakatnya melaksanakan tahlilan dalam memperingati kematian, salawat menjelang shalat lima waktu sebagai bukti pengaruh. Orang Sunda dengan model pendidikan 'mengaji sebagai pendidikan dalam menanamkan baca al-Qur'an pada anak-anak dan mengisi ceramah-ceramah di kampung serta menjadi guru.
Mayoritas penduduk Indonesia sebenarnya didominasi dengan Suku Melayu dengan berbagai sub-etniknya yang tersebar di Pulau Jawa dan Kalimantan. Meski terdapat budaya kuat, serta pengetahuan dari para scholar atau mereka yang beruntung menjadi bagian "well educated", nampaknya dominasi pengaruh masih oleh Sunda dan Jawa. Sehingga, putera-putera daerah terbaik selain belajar di Negara semisal Maysia, banyak juga yang rela jauh-jauh ke Jogja dan Malang misalnya. Ada juga beberapa yang 'mondok di Banten dan kuliah di sana.
POLITIK
Identifikasi gerak politik bisa ditemukan dalam berbagai program pemerintah terutama transmigrasi, pengadaan infrastruktur dan transportasi serta tenaga atau buruh kasar dalam berbagai sektor pembangunan, tidak terkecuali dan terutama tenaga ahli di sektor pendidikan menengah dan atas serta perguruan tinggi.
Pola yang terbangun pada akar rumput dapat disaksikan pada gerak budaya dan kesenian serta perdagangan seperti jamu gendong jika masih beruntung bagi generasi zaman ini dapat ditemukan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat.
Perlu diingat, Jawa dan Sunda bukanlah dua kutub yang dipertegangkan satu sama lain dalam konteks ini. Terlebih para pengikut yang semisal dari mereka sebagai pelajar dari di antara dua daerah tersebut untuk kembali ke daerah asalnya.
Jawa dan Sunda dalam konteks memberi pengaruh dalam masyarakat khususnya berbangsa dan bertanah air perlu disikapi sebagai keunggulan yang penting diteladani. Kesiapan akan perubahan dengan jati diri pribadi juga bukan suatu bentuk pengaruh, namun juga saling mengenal.
Post a Comment