Oknum Ibu - ibu Penarik Retribusi Air Terjun Sambar Nyawe di Desa Talang Sejemput Berulah, Lecehkan Profesi Wartawan


LAHAT, SL – Sikap tidak terpuji ditunjukkan oleh salah seorang oknum petugas penarik retribusi di objek wisata Air Terjun Sambar Nyawe, Desa Talang Sejemput, Kecamatan Lahat Selatan. Pasalnya, oknum ibu-ibu tersebut mengeluarkan celotehan angkuh yang dinilai melecehkan profesi jurnalis saat melayani pengunjung pada, Selasa (24/03/26).

​Peristiwa ini bermula saat Fer seorang wartawan yang bertugas di Kabupaten Lahat, tengah membawa rombongan keluarganya berwisata. Saat proses penghitungan biaya masuk, oknum petugas tersebut melontarkan kalimat pedas yang memicu ketegangan.

​"Nak wartawan, nak apolah, nak katek urusan dengan kami (Mau wartawan, mau apa pun, tidak ada urusan dengan kami)," cetus oknum tersebut dengan nada tinggi di hadapan pengunjung lainnya.

​Ucapan spontan tersebut sontak membuat Fer tersinggung. Padahal, menurut Fer, dirinya sama sekali tidak membawa-bawa profesinya untuk mendapatkan perlakuan khusus atau fasilitas gratis.

​​Fer menjelaskan bahwa ia datang bersama rombongan berjumlah 17 orang, termasuk anak-anak. Berdasarkan aturan lisan di lokasi, tarif retribusi dipatok sebesar Rp 10.000 per kepala.

​"Kok bicaranya begitu? Saya ke sini tidak mengatakan jika diri saya adalah wartawan. Untuk retribusi pun kami ikuti aturan Rp 10 ribu per kepala," ujar Fer dengan nada kecewa.

​Ia menambahkan bahwa upaya tawar-menawar yang dilakukannya adalah hal yang wajar dalam konteks rombongan besar. "Kami ada 17 orang. Wajarkan kalau kita menawar untuk pembayaran Rp 150 ribu dari total Rp 170 ribu yang harus dibayar? Tapi respon yang diterima justru ketidaksenangan yang membawa-bawa profesi," lanjutnya.

​​Selain sikap tidak ramah oknum petugas, Fer juga menyoroti transparansi pengelolaan objek wisata tersebut. Ia menyayangkan tidak adanya bukti pembayaran atau tiket masuk resmi yang diberikan kepada pengunjung.

​"Kalau memang ini retribusi resmi, seharusnya ada tiket masuk sebagai bukti. Namun yang terjadi di lapangan justru tidak jelas mekanismenya," tegas Fer

​Kejadian ini diharapkan menjadi perhatian pemerintah desa setempat maupun Dinas Pariwisata Kabupaten Lahat. Sikap arogan pengelola wisata dinilai dapat merusak citra pariwisata Lahat yang saat ini sedang giat dipromosikan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Desa Talang Sejemput belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. (Lex)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.