Soal Harga Cabai, Petani Meradang, IRT Bernafas Lega
LAHAT, SS - Semenjak harga cabai merah keriting mengalami penurun harga di pasaran pada saat ini, membuat kaum ibu-ibu dapat sedikit bernapas lega. Pasalnya tumbuhan yang mempunyai rasa pedas ini selalu ada dalam list belanja ibu-ibu saat belanja ke pasar tradisional.
Namun hal itu bertolak belakang dengan apa yang di alami oleh para petani cabai saat ini yang meradang akibat turunnya harga cabai tersebut.
Salah satunya Sustriani petani asal Desa Tunggul Bute Kecamatan Kota Agung Lahat. saat ini, komoditas pertanian itu hanya dijual Rp10.000 per kilogram. Para petani pun kecewa karena mereka harus merugi akibat hasil yang tidak sebanding dengan biaya produksi hingga panen.
Dalam sepekan terakhir, cabai merah hanya laku terjual mulai dari Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Harga ini mendadak turun drastis dibandingkan harga awal yang mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 per kg. Petani mengaku tidak tahu penyebabnya.
Menurut para petani, harga cabai saat ini tidak mampu menutupi biaya perawatan yang dikeluarkan selama masa tanam. Kondisi ini membuat para petani meradang dan merugi puluhan juta rupiah. Apalagi, hasil panen juga berlimpah baik datang dari Pagaralam, maupun dari Curup Rejang Lebong.
Selain itu, petani kesulitan menjual hasil panen lantaran daya tampung di pasar tradisional mencapai batas maksimal.
“Anjloknya harga cabai merah keriting pada musim panen kali ini sangat terasa. Penghasilan kami menurun hingga 40 persen,” kata petani cabai, Sutriani.
Para petani berharap pemerintah segara menstabilkan harga cabai di atas batas harga minimal, baik ditingkat agen maupun pedagang, agar petani tidak merugi. Jika kondisi ini terus terjadi menjelang bulan puasa nanti, kerugian petani akan lebih besar lagi.
Sementara, Kepala Dinas Perdagangan, Kabupaten Lahat, Drs Sukaca MM, melalui Kabid Perdagangan, Hamzah Seviyusman SE MM menyarankan, harus adanya campur tangan dari pemerintah daerah. Petani khususnya petani cabai harus mempunyai wadah yang dinaungi pemerintah daerah.
"Misalkan ada koperasi, dengan adanya kelompok tani mereka bisa dapet ilmu pertanian cabai yang benar, mencari waktu tanam yg tepat," ucapnya.
Selain itu, petani dituntut untuk lebih kreatif seperti dengan adanya kelompok tani, petani bisa membeli mesin untuk menggiling cabe dengan kapasitas besar yang bisa memenuhi kebutuhan disekitar wilayah mereka.
"Bukan tidak mungkin juga bisa meluas ke seluruh daerah, kan banyak yang butuh (mesin) jadi petani tidak selalu menjual bahan mentah," tutupnya.(Fry)

Post a Comment