Wali Kota Arlan Gerak Cepat Tanggapi Keluhan Limbah Tempe Warga Pakjo, Perintahkan Camat Cek Lokasi
PRABUMULIH – Keluhan warga terkait bau menyengat yang diduga berasal dari limbah usaha pengolahan tempe di kawasan Pakjo, Kelurahan Gunung Ibul Barat, Kecamatan Prabumulih Timur, langsung mendapat perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Prabumulih.
Wali Kota Prabumulih, H Arlan, meminta jajaran pemerintah kecamatan segera turun ke lapangan untuk memastikan kondisi yang dikeluhkan masyarakat sekaligus mencari solusi agar persoalan tersebut tidak berlarut.
Menindaklanjuti arahan itu, Camat Prabumulih Timur Reki Saputra SH bersama Ketua RT dan RW setempat mendatangi lokasi usaha pengolahan tempe pada Sabtu (5/9/2026) sore.
Di lokasi, mereka bertemu langsung dengan pemilik usaha dan membahas persoalan limbah yang dikeluhkan warga.
Reki mengatakan, pihak usaha diminta tidak membuang limbah hasil produksi secara langsung ke selokan. Limbah terlebih dahulu harus ditampung dan diolah agar tidak menimbulkan bau maupun mengganggu lingkungan sekitar.
“Limbah sebelum dibuang ke selokan seharusnya diolah terlebih dahulu sampai bersih, sehingga tidak menimbulkan bau. Kita juga sudah meminta langkah dini untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat,” ujar Reki.
Salah satu solusi yang disampaikan pemerintah, lanjut Reki, yakni pembuatan bak penampungan sementara. Dengan begitu, limbah tidak langsung mengalir ke saluran air dan dapat melalui proses pengolahan sebelum dibuang.
Pemkot Prabumulih juga telah melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan persoalan pengelolaan limbah sekaligus aspek perizinan usaha dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan.
“Kita tidak melarang masyarakat untuk berusaha. Silakan berusaha, tetapi jangan sampai aktivitas usaha tersebut merugikan masyarakat di sekitarnya,” tegas Reki.
Pemilik Usaha Minta Maaf
Sementara itu, Fifi selaku pemilik usaha pengolahan tempe menyampaikan permohonan maaf kepada warga atas munculnya bau yang diduga berasal dari limbah aktivitas produksi.
Ia mengakui adanya persoalan dalam pengelolaan limbah dan menyatakan siap melakukan perbaikan.
“Mohon maaf atas kelalaian kami. Kemarin Pak Lurah juga sudah datang menegur kami terkait bau tersebut akibat limbah pengolahan tempe yang kami lakukan,” kata Fifi.
Ia memastikan akan menindaklanjuti arahan pemerintah dan memperbaiki sistem pengelolaan limbah agar aktivitas usahanya tidak lagi mengganggu kenyamanan warga maupun kondisi lingkungan di sekitar lokasi.
Respons cepat pemerintah ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi warga sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha agar tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi dengan memperhatikan kebersihan dan lingkungan sekitar.


Post a Comment