Dibalik Bungkamnya PT BA dan Pama Soal Mitigasi Dampak Limbah Batu Bara, Ada Keselamatan Warga yang Terancam!


LAHAT,SS – Kondisi tebing di bantaran Sungai Pait, Kabupaten Lahat, kini berada dalam status kritis. Aktivitas pembuangan limbah yang diduga berasal dari operasional tambang batu bara telah menyebabkan erosi masif pada struktur tanah di bibir Sungai Pait yang kini mengancam keselamatan warga.

​Meski situasi di lapangan telah mencapai tahap darurat, pihak PT Bukit Asam (PT BA) dan PT Pama Persada Nusantara (Pama) hingga kini belum memberikan keterangan resmi maupun langkah mitigasi nyata. Padahal, pohon-pohon besar di lokasi tersebut sudah nyaris tumbang dan tanah pemukiman warga terancam longsor sewaktu-waktu.

​Upaya konfirmasi yang dilakukan kepada pihak manajemen PT BA dan Pama terkait tanggung jawab mitigasi ini tidak membuahkan hasil. Kedua perusahaan tersebut memilih untuk tetap bungkam saat dikonfirmasi wartawan.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, kondisi bibir Sungai Pait sangat memprihatinkan. Erosi bawah permukaan telah menciptakan rongga-rongga besar di bawah akar pohon, yang mengakibatkan tanah kehilangan penopang utamanya.

Selain pohon - pohon besar yang nyaris
tumbang, ada permukiman warga yang saat ini sisa tanah di belakang rumahnya kurang dari 3 meter akibat dampak erosi. Kondisi kian ini menghawatirkan karena ketinggian dari dasar Sungai Pait  mencapai 4 meter.

Kondisi ini membuat tanah menjadi sangat tidak stabil dan berisiko memicu pergerakan tanah masif (longsor) yang dapat merobohkan rumah warga kapan saja.

​Sikap bungkam dari PT BA dan Pama memicu keresahan mendalam. Sebagai pelaku usaha yang beroperasi di wilayah tersebut, warga menilai perusahaan seharusnya memprioritaskan langkah mitigasi, termasuk penanganan segera terhadap pohon-pohon besar yang kini berisiko tinggi menimpa warga.

​"Pihak perusahaam jangan hanya berkutat dengan penyusunan DED saja, namun mengabaikan tindakan mitigasi. Kami melihat sendiri bagaimana tanah terus tergerus. Ini bukan sekadar persoalan limbah, tetapi sudah menyangkut nyawa warga yang tinggal di sini," ujar Mul salah satu Desa Gunung Kembang, Merapi Timur, yang perwakilan warga dengan nada cemas, Jum'at (03/06/26).

​Kekhawatiran senada juga disampaikan oleh Mur, warga terdampak limbah, yang merasa perusahaan abai terhadap risiko keselamatan di lapangan. "Saya sangat khawatir pohon-pohon besar ini tumbang dan menimpa warga yang melintas di perkebunan. Namun, sepertinya pihak perusahaan tidak peduli dengan keselamatan kami," ungkapnya dengan nada kesal.

Sementara itu, Kades Gunung Kembang Edi Suparno menegaskan bahwa pihaknya mendesak perusahaan untuk segera mengambil tindakan konkret di lapangan sebelum jatuh korban dan tidak hanya berkutat kepada penyusunan DED normalisasi Sungai Pait.

​"Kami tidak bisa terus-menerus menunggu proses administrasi atau dokumen yang tak kunjung selesai sementara tanah terus tergerus dan mengancam pemukiman. Saya meminta pihak PT BA dan Pama untuk turun langsung dan melakukan langkah darurat, seperti pemangkasan pohon yang rawan tumbang atau pemasangan penahan sementara. Keselamatan nyawa warga saya adalah prioritas yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh perusahaan," tegas Edi.(Fry)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.