Akar Mangrove, Akar Kehidupan : Jejak Hijau Hulu Migas di Sungsang IV
Hampir setahun lalu, perjalanan ke Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Sumatera Selatan, masih jadi cerita yang cukup membekas bagi saya yang ikut dalam Field Trip Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel 2025.
Waktu itu, suasana Sungai Musi jadi saksi bagaimana kegiatan hulu migas ternyata tidak hanya bicara soal energi, tapi juga menyentuh kehidupan warga di pesisir.
Perjalanan dimulai dari kawasan Jakabaring. Sejak pagi, para jurnalis sudah berkumpul, bersiap naik perahu menyusuri Sungai Musi. Perjalanan cukup panjang dan makin ke arah pesisir, kondisi jalan serta sungai terasa berbeda. Tapi justru di situ mulai terlihat kehidupan warga yang berdampingan langsung dengan alam dan aktivitas industri.
Waktu sampai di Desa Sungsang IV, suasana langsung terasa hangat. Warga menyambut dengan sederhana tapi akrab. Ada hidangan khas pesisir, ada juga pertunjukan kecil dari pemuda desa yang menggambarkan kehidupan mereka yang dekat dengan sungai dan laut. Dari awal saja sudah terlihat kalau desa ini punya hubungan kuat dengan lingkungannya.
Hal yang paling menarik waktu itu tentu kawasan mangrove yang tumbuh di sepanjang pesisir. Pohon-pohon itu bukan cuma jadi pemandangan hijau, tapi juga jadi pelindung alami dari abrasi laut.
Warga bilang, sejak mangrove mulai ditanam dan dirawat bersama, kondisi pesisir jadi lebih aman dan hasil laut juga perlahan kembali membaik.
Menariknya lagi, kegiatan mangrove ini ternyata tidak berhenti di urusan lingkungan saja. Warga ikut terlibat langsung, mulai dari pembibitan sampai perawatan.
Dari situ, muncul juga aktivitas ekonomi baru. Ada yang mulai mengembangkan wisata edukasi, ada juga yang mengolah hasil laut dan pesisir jadi produk seperti pempek udang, sirup dari tanaman lokal, sampai sabun berbahan bakau.
Pihak SKK Migas Sumbagsel saat itu juga menegaskan bahwa program ini memang dirancang bukan sekadar tanam pohon. Lebih dari itu, tujuannya supaya ada dampak jangka panjang yang bisa dirasakan masyarakat. Lingkungan terjaga, tapi ekonomi warga juga ikut bergerak.
Para jurnalis yang ikut kegiatan itu juga merasakan pengalaman yang berbeda. Biasanya hanya meliput dari jauh, tapi kali itu mereka benar-benar turun langsung ke lapangan. Bahkan ikut menanam mangrove bersama warga di tepian Sungai Musi.
![]() |
| Rehabilitasi mangrove di Desa Sungsang IV, Banyuasin II, Sumatera Selatan, menunjukkan upaya bersama menjaga lingkungan pesisir sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. |
Lumpur yang menempel di tangan jadi semacam pengingat bahwa menjaga alam memang butuh keterlibatan langsung.
Dari cerita warga, perubahan mulai terasa. Beberapa tahun setelah mangrove tumbuh, ikan dan kepiting yang sempat berkurang perlahan kembali.
Nelayan juga mulai merasakan hasil tangkapan yang lebih stabil dibanding sebelumnya.
Kalau dilihat kembali, kegiatan tahun itu bukan cuma soal kunjungan atau liputan biasa. Lebih dari itu, ada gambaran jelas bagaimana kerja sama antara perusahaan, pemerintah, media dan masyarakat bisa berjalan di satu garis yang sama.
Mangrove di Desa Sungsang kini tumbuh bukan hanya sebagai pohon pelindung pesisir. Ia telah menjadi simbol kolaborasi antara energi, lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Akar yang menjaga bumi sekaligus menumbuhkan harapan bagi generasi mendatang. (Nald)



Post a Comment