Pemprov Sumsel Luncurkan Retret Siswa Laskar Satria Pandu
PALEMBANG, SS.CO.ID – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) akan meluncurkan program Retret Siswa Laskar Satria Pandu mulai 2 Juli 2025. Program ini digagas langsung oleh Gubernur Herman Deru dan Wakil Gubernur Cik Ujang sebagai solusi alternatif untuk menanggulangi maraknya kenakalan remaja.
Sebanyak 100 siswa dari berbagai sekolah SMA sederajat di seluruh kabupaten/kota akan mengikuti retret perdana yang digelar di Bumi Perkemahan Gandus, Palembang. Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel Drs H Edward Candra MH memastikan semua persiapan teknis telah tuntas.
“Mulai dari lokasi, perlengkapan, hingga pelatih semuanya sudah siap. Pak Gubernur akan hadir langsung membuka kegiatan ini,” ungkap Edward, Senin (30/6/2025).
Edward menjelaskan bahwa fenomena kenakalan remaja seperti tawuran, bullying, penyalahgunaan narkoba, dan geng motor sudah menjadi alarm sosial. Retret ini diharapkan mampu menjadi intervensi yang strategis dan menyeluruh.
“Pak Gubernur tidak ingin solusi yang sifatnya hanya represif. Retret ini menjadi langkah edukatif dan pembinaan karakter yang menyentuh akar persoalan,” ujarnya.
Peserta retret tidak hanya terdiri dari siswa dengan catatan kenakalan, tetapi juga siswa berprestasi. Ini karena program dirancang dengan pendekatan ganda: preventif dan kuratif.
Pendekatan preventif bertujuan memperkuat moral siswa berprestasi agar tidak menyimpang. Sedangkan kuratif berfungsi sebagai rehabilitasi bagi siswa yang sudah terindikasi terlibat kenakalan.
Di lokasi, para peserta akan menjalani kegiatan terstruktur seperti kepanduan, pelatihan mental, diskusi nilai-nilai kehidupan, dan pembinaan religiusitas bersama fasilitator dan tokoh masyarakat.
Program ini turut melibatkan instansi lintas sektor, termasuk dinas terkait, aparat keamanan, tenaga psikolog, guru, dan relawan karakter. Tujuannya untuk membangun sistem pembinaan yang utuh dan berkelanjutan.
Edward menegaskan bahwa retret ini merupakan ide murni dari Sumsel. Berbeda dengan Jawa Barat, Sumsel memilih metode perkemahan alam yang inklusif dan tidak menakutkan bagi siswa.
“Kita ingin membina, bukan menakut-nakuti. Pendekatan kita lebih bersahabat,” tegasnya.
Program ini dirancang untuk terus berlanjut dan berkembang seiring kebutuhan zaman. Pemprov Sumsel menargetkan program ini menjadi bagian penting dari strategi menghadapi bonus demografi pada 2030-2040.

Post a Comment